Desain Aeromodelling Flyingwing

Flying wing adalah jenis pesawat terbang bersayap tetap yang tidak memiliki ekor (tail less) sehingga konfigurasinya sangat sederhana yaitu hanya terdiri dari sayap dan control surfaceberupa aileron ataupun elevon (elevator aileron), sehingga pesawat ini hanya membutuhkan minimal dua servo sebagai penggerak (untuk pesawat ber ekor, minimal digunakan 4 servo pada umumnya). Karena kesederhanaan tersebut, pesawat flying wing banyak di gemari pada kalangan aeromodeller karena mudah dibuat maupun di perbaiki. Berikut adalah contoh flying wing yang populer yaitu X-8
https://www.google.co.id/search?q=flying+wing+rc+plane&biw=1280&bih=657&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjKgqbC0J_LAhVICY4KHYUMBDEQ_AUIBigB#tbm=isch&q=x-8+uav&imgrc=CRbLPFtxxlFeCM%3A
Adapun dalam mendesain pesawat flying wing, ada beberapa hal yang harus di perhatikan untuk mendapatkan performa yang optimal, seperti pemilihan airfoil, peletakan CG dan ukuran sayap. Perbedaan airfoil yang dipilih untuk desain flying wing adalah airfoil pada flying wing berbentuk reflexed seperti gambar berikut ini :
http://aeroengineering.co.id/2016/02/01/pemilihan-airfoil-pesawat-aeromodelling/
Perbedaan airfoil reflexed dengan airfoil biasa secara fisik adalah memiliki bentuk menyerupai bentuk S yang tipis. Adapun secara aerodinamika, airfoil reflexed memililki karakter yaitu momen yang sangat kecil, atau bahkan bernilai positif (membuat pesawat cenderung nose-up) sehingga dapat melengkapi atau bahkan menggantikan fungsi dari ekor pada pesawat non-flying wing yang mana berfungsi menghasilkan kestabilan longitudinal (pitch).
                Kemudian, jika diperhatikan setiap pesawat flyingwing pasti memiliki swept back.  Sweept back angle pada pesawat flying wing ini penting untuk keseimbangan longitudinal (pitch) maupun direksional (yaw). Biasanya dipilih swept angle antara 20-30 derajat.
                Untuk menentukan CG dari flyingwing, sudah banyak tersedia kalkulator online untuk menentukan secara langsung dari bentuk pesawat yang kita desain. Adapun pada konsepnya, letak CG harus berada di depan neutral point yang dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :
Dengan lr = chord root, b = wing span, l = Taper ratio dan j = swept angle.

Setelah didapatkan nilai neutral point, dapat dihitung letak CG adalah 2 hingga 5 persen panjang chord rata-rata di depan neutral point yang telah dihitung diatas. Semakin jauh maka pesawat akan semakin stabil namun lebih susah bermanuver http://www.mh-aerotools.de/airfoils/flywing1.htm. Untuk mempelajari desain sayap yang lebih detail dan mendasar, dapat dibaca pada artikel http://aeroengineering.co.id/2016/02/03/desain-planform-sayap-pesawat-aeromodelling/.
Kemudian, pemasangan motor dari flyingwing ini harus telliti, mengingat pesawat flying wing memiliki konfigurasi pusher, karena pemasangan yang salah akan mengakibatkan pesawat looping (baik keatas maupun kebawah), hal ini membuat pesawat menjadi sulit dikendalikan terutama sebelum di-trim. Pemasangan yang ideal adalah dengan mengarahkan sumbu putar motor ke center of gravity, baik CG vertikal (diukur dari atas-bawah pesawat) maupun CG horizontal (dikukur berdasarkan planform sayap).
By : Caesar Wiratama
Aero Engineering

Author: Caesar Wiratama

caesar@aeroengineering.co.id
0815-4806-5205

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *